• Mengenal Jatinegara Jakarta Timur

    JATINEGARA (wikipedia)

    stasiun-jatinegara-1971

    Nama Jatinegara diambil

    dari Jatina Nagara yang berarti simbol perlawanan Kesultanan Banten terhadap kolonial Belanda saat itu.
    Pada abad ke-17, daerah ini merupakan pemukiman para pangeran kesultanan Banten. Pada tahun 1661, Cornelis Senen , seorang guru agama Kristen yang berasal dari Banda, Maluku, membeli tanah di daerah aliran sungai Ciliwung. Sebagai guru dan kepala kampung, Cornelis Senen diberi gelar Meester. Semenjak dibangunnya Jalan raya Daendels, tanah yang dimiliki oleh Cornelis Senen secara partikelir ini berkembang pesat menjadi pemukiman dan pasar yang ramai. Hingga kini masyarakat menyebutnya dengan Meester Cornelis atau Mester.
    Pada abad ke-19, Meester Cornelis merupakan kota satelit (gemeente) Batavia yang terkemuka. Meester Cornelis juga merupakan ibu kota dari kawedanan Jatinegara yang melingkupi Bekasi, Cikarang, Matraman, dan Kebayoran. Pada tanggal 1 Januari 1936, pemerintah kolonial menggabungkan wilayah Meester ke dalam bagian kota Batavia.
    Nama Jatinegara baru muncul tahun 1942, saat Jepang menduduki Indonesia. Nama Meester yang terlalu berbau Belanda diganti menjadi Jatinegara.

    Transportasi

    Jatinegara merupakan salah satu wilayah yang padat penduduk. Untuk kepentingan masyarakat yang berdomisili di daerah tersebut pemerintah juga mengembangkan sarana transportasi pendukung. Pada tanggal 6 April 1875 pemerintah meresmikan jalur kereta yang menghubungkan Jatinegara dengan Jakarta Kota. Pada tahun 1881, Stoom-ram Mij mengoperasikan trem uap yang menghubungkan Kampung Melayu (Meester Cornelis) dengan Kota Intan (Batavia) melewati rute Matraman, Kramat, Senen, Harmoni, dan Glodok.
    6 April 1925, kereta listrik mulai beroperasi sejauh 15,6 km menghubungkan Jatinegara dengan Tanjung Priok dan sejauh 2,6 km menghubungkan Jatinegara dengan Manggarai. Untuk pengembangan perekonomian pulau Jawa, Daendels membangun jalan Anyer-Panarukan. Jatinegara merupakan salah satu kota yang dilewati jalur tersebut. Untuk mengurangi kesemrawutan, di tahun 1970-an pemerintah membangun terminal Kampung Melayu. Transjakarta koridor 5 (rute Ancol – Kampung Melayu) dan koridor 7 (rute Kampung Melayu – Rambutan) juga melayani penduduk yang bermukim di wilayah ini. Banyaknya transportasi publik yang melintasi Jatinegara menunjukkan bahwa daerah ini merupakan wilayah penting dan cukup ramai sejak dahulu.

    Daftar Tempat Penting

    Gereja Koinonia (dahulu dikenal dengan Gereja Bethel)
    Bekas Gedung Wedana Meester Cornelis
    Gedung bekas kediaman Meester Cornelis ini secara bergantian dikuasai pejuang RI yang tergabung dalam Kesatuan Laskar Rakyat Jakarta. Terakhir dikuasai Kodim. Setelah Kodim 0505 mengosongkan gedung, tahun 2005 bagian sayap gedung digunakan sebagai kantor Pemuda Panca Marga (PPM). Kemudian Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta pun mengambilalih. Pada Mei 2010, gedung ini nyaris roboh dan tidak dirawat.
    Penjara Cipinang
    Pasar Induk Beras Cipinang
    Pasar Mester
    Pasar Rawa Bening (Bursa Batu Akik Jakarta)setelah di Renovasi dan diresmikan tgl 12 Mei 2010 oleh Gubernur DKI Jakarta Bp Fauzi Bowo Sekarang Lebih di kenal dengan Jakarta Gems Center Rawabening
    Stasiun Jatinegara

    Daftar Kelurahan

    Bali Mester, Jatinegara dengan kode pos 13310
    Kampung Melayu, Jatinegara dengan kode pos 13320
    Bidaracina, Jatinegara dengan kode pos 13330
    Cipinang Cempedak, Jatinegara dengan kode pos 13340
    Rawa Bunga, Jatinegara dengan kode pos 13350
    Cipinang Besar Utara, Jatinegara dengan kode pos 13410
    Cipinang Besar Selatan, Jatinegara dengan kode pos 13410

    Cipinang Muara, Jatinegara dengan kode pos 13420
    Pasar Jatinegara merupakan sebuah pasar yang berada di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur. Pasar ini berdekatan dengan Pusat Grosir Jatinegara, SMP Negeri 14 Jakarta dan Stasiun Jatinegara. Pasar ini dahulu bernama Mester Passer (Pasar Mester) dan pasar ini di lalui oleh Trem Batavia. Pasar ini juga disebut Pasar Kamis karena dahulu pasar ini dibuka setiap hari kamis.

    Sejarah

    Mester Passer (Pasar Mester) sekitar tahun 1940an
    Pada masa penjajahan Belanda, Jatinegara merupakan pusat dari kabupaten yang dikenal sebagai Meester Cornelis. Kabupaten Jatinegara saat itu meliputi Bekasi, Cikarang, Matraman dan kebayoran. Nama Meester Cornelis diganti menjadi Jatinegara pada masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1942. Meskipun demikian, nama Jatinegara yang berarti ‘negara sejati’ itu sudah dipopulerkan oleh Pangeran Ahmad Jayakarta saat beliau mendirikan perkampungan Jatinegara Kaum di wilayah Pulo Gadung, Jakarta Timur. Versi lain mengatakan bahwa nama Jatinegara diadaptasi dari banyaknya pohon jati yang masih ditemukan di kawasan tersebut pada masa pendudukan Jepang, sehingga nama Meester Cornelis diganti menjadi Jatinegara.
    Pada pertengahan abad ke 17, Belanda memberikan izin pembukaan hutan di sebuah kawasan yang jaraknya kira-kira 15-20 kilometer dari Batavia kepada Cornellis Senen (seorang guru agama Kristen). Cornellis Senen adalah seorang keturunan Portugis yang berasal dari Lontor, Pulau Banda. Dia mampu berkhotbah dalam bahasa Melayu maupun Portugis (Kreol). Cornellis Senen biasa dipanggil Meester yang berarti tuan guru. Konon beliau ditolak oleh panitia ujian saat beliau ingin menempuh ujian untuk menjadi seorang pendeta pada tahun 1657. Bisa jadi beliau ditolak karena beliau bukan asli keturunan Belanda. Namun demikian, beliau diberi hak untuk membuka hutan dan menebang pohon jati di tepi sungai Ciliwung. Hutan yang dibukanya kini menjadi daerah padat penduduk yang dikenal sebagai Jatinegara. Nama Meester sendiri diabadikan menjadi Pasar Meester.

    peta-jatinegara1

     

     

     

     

     

     

     

     

    Pasar Jatinegara Saat ini

    Pasar Lama Jatinegara atau lebih dikenal dengan Pasar Mester, merupakan pusat ekonomi bagi warga Jatinegara. Pasar Lama Jatinegara mempunyai banyak deret bangunan dimana dulunya dikenal dengan bangunan Belanda. Di sekitar pasar tersebut juga terdapat pedagang-pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya mulai dari pukul 7 pagi hingga pukul 6 sore.
    Pasar ini ramai pada tanggal-tanggal muda, dimana orang-orang baru saja mendapatkan penghasilan. Ketika terjadi kerusuhan pada tahun 1998, pasar ini juga menjadi tujuan penjarahan. Pada tahun 2007, pasar Jatinegara juga sempat mengalami kebakaran di bagian depan. Ketika itu api berasal dari sebuah warung makan karena adanya arus pendek. Beberapa toko habis dilalap api. Kegiatan pasar sempat berhenti sejenak, namun keesokan harinya kegiatan pasar kembali aktif.
    Di sekitar pasar ini banyak terdapat peninggalan sejarah berupa rumah-ruamh Tionghoa lama, tentunya hal itu mengindikasikan sebagai Pecinan. Objek sejarah lain yang terdapat di Jatinegara yaitu: Gereja Koinonia yang dibangun akhir abad ke-19, SMP Negeri 14 Jakarta, Stasiun Jatinegara, Gedung Eks. Kodim 0505, Kantor Pos Jatinegara

    JAKARTA TIMUR (wikipedia)

    Secara administratif, wilayahnya terdiri atas 10 kecamatan, 65 kelurahan, 673 rukun warga dan 7.513 rukun tetangga dan dihuni tidak kurang dari 1.959.022 jiwa, dimana 1.044.857 jiwa laki-laki dan 914.175 jiwa perempuan atau sebanding dengan 10% dari jumlah penduduk DKI Jakarta. Kota ini memiliki wilayah seluas 187,75 km² (menurut Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur)[3], atau seluas 188,19 km² (menurut Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta)[4] dengan kepadatan mencapai 14.312 jiwa per km², menjadikannya kota administrasi terluas di provinsi DKI Jakarta. Kota ini memiliki tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 2,4% per tahun dan pendapatan per kapita sebesar Rp 5.057.040,-
    Kantor Walikota Jakarta Timur hingga akhir tahun 1990-an berada di wilayah kecamatan Jatinegara. Baru pada sekitar tahun 2000-an kantor Walikota dipindahkan ke wilayah Penggilingan, di wilayah kecamatan Cakung. Alamat Kantor Walikota Jl. Dr. Soemarno No. 1 Penggilingan, Cakung.
    Selain itu di Jakarta Timur juga terdapat salah satu penjara terbesar di Indonesia yaitu LP Cipinang yang berlokasi di kecamatan Jatinegara, dan wilayah ini juga dilalui oleh proyek Banjir Kanal Timur.
    Iklim dan Cuaca

    Daerah ini sepanjang tahun selalu beriklim panas dengan suhu rata-rata sepanjang tahun sekitar 27 °C. Terdapat lima sungai mengaliri Kota Administrasi Jakarta Timur. Sungai-sungai tersebut antara lain Ciliwung, Kali Sunter, Kali Malang, Cipinang, dan Cakung Drain di bagian utara wilayah ini. Sungai-sungai tersebut pada musim puncak hujan pada umumnya tidak mampu menampung air sehingga beberapa kawasan tergenang banjir. Tahun 2007 curah hujan rata-rata mencapai 243,14 mm dengan curah hujan tertinggi pada bulan pebruari yakni 1.081,4 mm. Tekanan udara sekitar 1.617,9 MBS dan kelembaban udara rata-rata 77,67 persen. Kecepatan angin 3,42 MSE serta arah angin pada bulan Januari-Maret ke arah utara, April-September ke arah timur laut dan Oktober-Desember ke arah Barat, arah angin Oktonber-Desember sering menimbulkan hujan lebat seperti halnya wilayah-wilayah lain di Indonesia.[5]
    Daftar kecamatan dan kelurahan

    Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar kecamatan dan kelurahan di Kota Administrasi Jakarta Timur
    Matraman Kode Pos Pulo Gadung Kode Pos Jatinegara Kode Pos Duren Sawit Kode Pos Kramat Jati Kode Pos
    Pisangan Baru 13110 Kayu Putih 13210 Bali Mester 13310 Pondok Bambu 13430 Kramat Jati 13510
    Utan Kayu Selatan 13120 Jati 13220 Kampung Melayu 13320 Duren Sawit 13440 Batu Ampar 13520
    Utan Kayu Utara 13120 Rawamangun 13220 Bidaracina 13330 Pondok Kelapa 13450 Balekambang 13530
    Kayu Manis 13130 Pisangan Timur 13230 Cipinang Cempedak 13340 Pondok Kopi 13450 Kampung Tengah 13540
    Pal Meriam 13140 Cipinang 13240 Rawa Bunga 13350 Malaka Jaya 13460 Dukuh 13550
    Kebon Manggis 13150 Jatinegara Kaum 13250 Cipinang Besar Utara 13410 Malaka Sari 13460 Cawang 13630
    Pulo Gadung 13260 Cipinang Besar Selatan 13410 Klender 13460 Cililitan 13640
    Cipinang Muara 13420
    Makasar Kode Pos Pasar Rebo Kode Pos Ciracas Kode Pos Cipayung Kode Pos Cakung Kode Pos
    Pinang Ranti 13560 Pekayon 13710 Cibubur 13720 Lubang Buaya 13810 Cakung 13910
    Makasar 13570 Kampung Gedong 13760 Kelapa Dua Wetan 13730 Ceger 13820 Cakung Timur 13910
    Halim Perdanakusuma 13610 Cijantung 13770 Ciracas 13740 Cipayung 13840 Rawa Terate 13920
    Cipinang Melayu 13620 Kampung Baru 13780 Susukan 13750 Munjul 13850 Jatinegara 13930
    Kebon Pala 13650 Kalisari 13790 Rambutan 13830 Pondok Ranggon 13630 Penggilingan 13940
    Cilangkap 13870 Pulogebang 13950
    Setu 13880 Ujung Menteng 13960
    Bambu Apus 13890

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *